.. Catatan Reporter Metro TV Medan : Adli Hakim Nasution ..

Kru Koperasi Metro TV Medan kali ini memiliki ide menarik yakni “memaksa” para anggota Metro TV Medan untuk membuat kesan dan pesan selama bekerja di Metro TV Biro Medan. Nah, yang pertama kali kedapatan jatah adalah reporter Jakarta yang kali ini ditempatkan di Medan selama setahun atau mungkin lebih, Adli Hakim Nasution. Inilah kesan-kesan darinya :

MERANTAU KE TANAH DELI

Ketika memulai karir sebagai wartawan di Metro TV, salah satu pesan yang selalu diulang oleh kantor, dan bahkan dengan jelas tertulis dalam kontrak kerja adalah “bersedia ditempatkan di mana saja dalam lingkungan PT Media Televisi Indonesia”. Maka ketika ditawarkan (atau diperintahkan ?) untuk bertugas di Medan selama minimal setahun, saya tak perlu waktu lama untuk mengiyakan, lagipula tak ada alasan untuk menolak.

Tugas ke Medan adalah keluar dari zona nyaman. Sejak lahir saya tak pernah jauh dari rumah dan orang tua, lebih lama dari sekadar satu-dua bulan. Saya hampir tidak kenal dengan siapapun di Metro TV Biro Medan, saudara-saudara di Medan pun sudah banyak yang terlupa nama apalagi wajahnya. Tapi menjadi wartawan bagi saya,  salah satunya memang untuk keluar dari comfort zone itu.

Medan ternyata tidak banyak berbeda dengan Jakarta, lagipula ini memang kota terbesar ketiga di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya. Awalnya saya pikir memang orang-orang di Medan lebih keras dibanding Jakarta. Orang Medan bicara dengan intonasi yg terdengar tinggi, bahasa yang bagi sebagian orang mungkin kasar, dan perilaku seenaknya. Tapi kini saya paham, itu hanya kemasannya saja. Sekarang saya justru prihatin dengan kehidupan di Jakarta yang bisa membuat orang sabar begitu mudah kehabisan sumbu kesabaran dan kesadarannya.

Bekerja bersama Metro TV Biro Medan adalah pengalaman menyenangkan, kata “sepi” seakan tidak dikenal di sini. Kalau sudah full team , keadaan apapun, bahkan yang sudah sangat genting, selalu jadi ramai. Ini sangat membantu mengurangi ketegangan dalam bekerja.

 

Ada dua liputan yang paling berkesan sejauh ini, yaitu rangkaian peristiwa perampokan Bank CIMB Niaga, dan letusan Gunung Sinabung. Keduanya terjadi pada Agustus sampai sekitar Oktober 2010, saat itu liputan seakan tidak pernah berakhir.

Lagi-lagi liputan ini mendorong saya keluar dari zona nyaman. Peristiwa Perampokan CIMB Niaga misalnya, membuat saya harus memahami tindak kriminal, seperti apa olah TKP, apa yang dikerjakan oleh Labfor polisi, apa bedanya dengan tim DVI, bagaimana mengorek keterangan dari polisi kemudian mencari cara mengetahui mana keterangan yang benar dan mana yang hanya pengalih. Padahal dari pengalaman selama liputan di Jakarta, duh saya paling alergi liputan yang berhubungan dengan polisi! Tugas liputan di Mabes polri atau Polda Metro Jaya adalah mimpi buruk!

Sementara meliput letusan gunung Sinabung, menyisakan kesan yang lebih mendalam dan personal. Saya baru tahu bagaimana letusan gunung berapi, bagaimana “rasanya” abu vulkanik. Saya juga kagum dengan kesabaran orang-orang Karo menghadapi peristiwa ini, termasuk cara mereka mengelola bantuan lewat kearifan lokal yang mengedepankan transparansi.

Sekitar dua-tiga bulan belakangan ini, Sumatera Utara dan Aceh sepertinya relatif damai dan aman, dan bagi saya ini berarti ada sedikit waktu luang untuk mencoba hal-hal lain di luar pekerjaan seperti ngurusin badan (yes! Supaya tidak dibilang tidak layak, atau seperti om-om…) , dan menambah teman. Sampai saat ini saya masih berpikir, I work in Medan but I don’t really live here. Only with more non-work-related friends, I can say that I live in Medan.

Kalau ditanya, soal betah atau tidak di Medan, jawaban saya tidak pernah pasti, “betah-betah biasa saja.” Karena sekarang ini juga sedang terbelah antara ingin kembali kerja di Jakarta supaya bisa menerapkan ilmu yang didapat di Biro Medan (alasan yang bagus kan untuk menutupi alasan sebenarnya seperti kangen rumah, kangen keluarga, kangen teman-teman… hahaha), dengan tidak ingin pulang karena kerja di Medan perlahan mungkin mulai menjadi zona nyaman saya juga. Yang pasti, masa-masa di Medan ini akan saya ingat terus.

Semoga Adli makin betah di Medan ya.. Majukan terus biro Medan bersama teman-teman yang lain. Kami mendukungmu.. Ati-ati, nanti ketemu jodoh di kota ini. Rata-rata reporter yang ditempatkan di Medan kecantol orang Medan. Hahaha..

Kru Koperasi Metro TV Medan

Comments
5 Responses to “.. Catatan Reporter Metro TV Medan : Adli Hakim Nasution ..”
  1. menta mengatakan:

    mantap dli.

  2. hans mengatakan:

    Banyak teman2 saya dari jakarta, bandung, surabaya ketika tugas ke Medan untuk project 2 disana punya kesan sama..sama halnya dengan B’aldi…ketika mereka melihat Medan..Mrk langsung bilang..Jakarta ma Medan sama saja (ya iyalah Secara sama2 kota Metropolitan)–>”Metropolitan=Penduduknya diatas 1.500.000 (artinya memang sudah crowded yang menandakan adanya urbanisasi besar atau menjadi city major).

    Tapi ada juga yang lucu..!!

    T: DKI jakarta dibanding Medan..luasan mana ya?
    J: wah..kalau mau bandingin DKI jakarta sama Medan pertanyaan yg salah?
    DKI jakarta dibandingkan dengan SUMUT itu yg bener!!!selama ini bnyk salah..(propinsi hrs dibandingkan dgn proopinsi) dan ibukota prop dgn ibukota prop..atw Jkarta Pusat VS Medan..itu br bener.
    T:Proyek kita di kota SIdempuan, brp jauh?
    J: Mau pake pesawat atw darat?..kalau darat kira2 8-10 jam..
    T:wkwkkwkw..Luas bangettt??kl dari jakarta sudah sampe dmn tuh..?
    J:Nah…Luas Bukan????
    T:Luas bangettttt…

    ujung2nya mrk bnyak jg yg stay di medan:-)..alias krn ketemu JODOHHHH

    • metrotvmedan mengatakan:

      Hahaha, abangda ini memang kreatif.. yang pasti dari 1 mall ke mall lain di medan ini masih bisa 15 menit hitungannya bang.. kalo di jakarta sudah ga bisa.. Hihihihihi.. Doain Adli supaya ketemu jodoh di Medan ya..

  3. hans mengatakan:

    he..okay..mungkin krn di medan dl saya kerjanya antar kota yang satu dengan yg lain..cth..medan-sidempuan;medan-siantar; medan penyabungan..jadi terasa jauhh..sampai ratusan km

    nah kl dijakarta..dkt krn alasan tadi, luasannya&panjang jalan sbnrnya pendek tp jadi macetnya yg buat lama….
    (jakarta barat-jakarta pusat-jakrta selatan, masih bisa saya tempuh tiap hari dlm waktu yg tidak makan waktu sampai 1/2 hari)..nah kalau disuruh ke medan-penyabungan (ampunnn jauhnya)..he..

    okay..sukses trs…smg ketemu jodoh..saya doakan dapat Dokter, kl sakit gak usah repot:-)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.